Tentang kamu yang hebat

Crazy little thing called love, that’s you. Secara pastinya saya lupa kapan kita bertemu? kapan kita saling mengenal? kapan kita mulai saling akrab menyapa? kapan kita bisa tersenyum ketika saling bertukar kata, untuk yang pertama kalinya, saya lupa, namun karisma dan aura itu masih tersimpan rasanya ketika pertama kali kau menunjukkannya, kau beda, kau kuat dan kau disiplinπŸ™‚

Saya diberi kesempatan selama kurang lebih 2 tahun hidup di lingkungan yang sama pada hari senin s/d sabtu di jam 07:00 s/d kegiatan rutin selesai, bersamamu, dihitung sejak saya mengenalmu. Namun tak banyak yang bisa dilakukan, terbatasi oleh kegiatan masing-masing, sehingga saya hanya bisa memantaumu dari kejauhan, curi-curi pandangan ketika lewat didepan kelasmu, melihat kegiatanmu, mencari info tentang dirimu, tegur sapa lewat pesan singkat dan nyaris apapun segalanya tentang dirimu yang hebat itu,

Dari awal saya telah kagum melihatmu,
Jujur penilaian pertama saya adalah ramah, bersahabat, terlihat aktif, dan murah senyum.
Hingga pada suatu saat, kamu mengajarkanku bagaimana untuk bisa tersenyum yang benar-benar tersenyum lepas dan ikhlas, “Senyum yang lebar tea, coba deh senyumπŸ™‚ ” (yang sampai saat ini terus membekas di memori). Kau juga penggemar Vidi Aldiano, dulu kau suka lagu-lagunya, selain itu lagu dan film bolywood pun kau suka, terus ketikan sms-mu pada saat dulu yang khas, unik, hanya kamu yang punya, berkarakter kuat, sehingga terlihat jelas dan beda mana ketikan milikmu mana yang bukan, entah sekarang kau masih menggoreskan ciri itu atau tidak, saya tidak tahu, sebab, telah lama kotak pesan singkat darimu ini kosong, suaramu juga khas, sampai sekarang saya masih hafal nada suaramu, khas seperti ituπŸ™‚, keaktifanmu, kau orangnya ingin tahu, ingin berkembang, mau mencoba, walaupun rawan akan kegagalan dan terakhir disiplin, loh? darimana saya tau kamu disiplin? saya tau kamu disiplin akibat terungkapnya alamat rumah tempat tinggalmu, itu di luar dugaan, awalnya kurang percaya, dari nama daerahnya pun hanya sebagian orang yang tahu, dan ternyata sangat sangat jauh dari tempat kami belajar, dan kendaraan angkutan umum yang tersedia saat itu hanya angkot yang memungkinkan, itupun 2 kali naik, dan waktu tempuh perjalanan kamu menuju tempat ini bisa mencapai satu setengah jam selambat-lambatnya bahkan mungkin bisa lebih, mungkin 1 sekolahan kamu adalah pemegang rekor siswa dengan jarak rumah terjauh, nah pertanyaannya adalah kapan kamu bangun tidur? apa sempet sarapan? apa gak lelah perjalanan jauh? karena pada suatu pagi saya kedapatan menemuimu sedang berpayungkan diri di kawasan dekat taman sekolah, karena hari itu hujan lumayan lebat dan temperatur lumayan agak dingin, kamu tau itu jam berapa? enam lewat lima belas menit! yang rumahnya radius 100 Meter pun belum tentu udah datang, dan ini malah sudah datang, kapan berangkatnya? disaat mereka lelap tertidur, kamu sedang mempersiapkan persenjataan untuk menaklukan ilmu pengetahuan, ketika yang lain baru bangun, kamu sudah berangkat melawan dingin dan kejamnya angin subuh dan ketika yang lain sedang enak menyantap sarapan, kamu sudah tiba di medan perang, siap untuk kegiatan dan aktivitas! semangat!
Jangan dikira saya hanya mengangguk-angguk saja, sayapun sempat menanyakan akan hal itu secara detail dan jawaban kamu sederhana “Justru bersyukur karena rumah jauh, jadi punya alasan, punya motivasi, punya semangat untuk bisa dan mengharuskan bangun pagi terus, walaupun kadang ada nggak kuatnya (wajar), ya jalani aja (sambil senyum)πŸ™‚ ” Gimana nggak disipilin coba?.

Saya suka kamu, saya suka gaya kamu berpakaian, saya suka gaya kamu berjalan, saya tersenyum melihat seleramu, entah karisma apa yang kamu miliki, saya pun bingung, intinya kau begitu mengagumkan, karena saking terkagum akibatnya terjadilah saat waktu itu kegoblokan saya terhadap kamu, andaikan kamu menyadari, bahwa penyebab kesalahan saat itu adalah ketidakdewasaan, kesempitan akan pemikiran, dan pola pikir yang salah dari diri saya, dan *flashbang …………………
kesalahan fatal telah dilakukan, betapa gobloknya diri ini ketika mengingat saat itu, saya bilang cinta, goblok banget, hal yang tiada guna manfaat.
Karena selama ini kamu mengenal saya sebagai mentor, *mungkin sebagai saudara laki-laki yang lebih tua dari mu, ya jelas, logika saya saat ini mampu menjelaskan semuanya hasil kejadian saat itu, tanpa disadari saya telah merusak pondasinya, yang rencananya bangunan ini adalah bangunan mewah dan hebat yang akan berdiri di tanah saya, apa boleh buat semua sudah terjadi, tidak ada mesin waktunya doraemon, saya merusak pondasinya dengan kejadian tersebut.
Karena itu saya sering melontarkan kalimat maaf, beribu kalimat maaf mungkin tak berefek merubah pandanganmu terhadap saya yang sudah rusak di penglihatanmu, bahkan selain itu, mungkin banyak kejadian kekanak-kanakan, banyak kejadian yang membuat sakit dan sedih akibat saya ini, saya dulu goblok, maafkan saya.
Tapi saya ucapkan terima kasih jika didalam hatimu masih membuka pintu dan mempersilahkan saya masuk, sekedar bertegur-sapa, silaturahmi, membangun hubungan baru dimulai dari awal seperti pertama saling mengenal, sekedar itu, tidak lebihπŸ™‚

Suatu hari yang paling indah dari semua hari-hari saya, terkenang baik hingga saat saya mengetik tulisan ini, hingga tua nanti, hingga saya mati, dan hingga kapanpun, adalah tanggal 21 Juli 2012 hari pertama bulan Ramadhan, sore hari yang cerah, angin pedesaan terasa segar, begitu nyaman, begitu tentram, untuk pertama kalinya berada dilingkunganmu, seakan kau lupa atas semua kesalahanku, seakan kau telah mengenalku lama, dimatamu tak terbesit sedikitpun rasa tidak suka, diwajahmu tak ada ekspresi yang tidak enak, sungguh sekali lagi ini diluar dugaan, seakan tak percaya namun keramahanmu saat itu membawaku hanyut kedalam obrolan-obrolan hangat sore itu, saling tukar kata, saling tukar pengalaman, tak jarang kau tersenyum bahkan tertawa didalamnya entah saat itu yang saya lakukan adalah dosa apa bukan, maafkanlah hamba-Mu ini yang miskin ilmu tidak-menau tentang hukum-Mu, namun sungguh tidak ada niat jahat dalam diri hamba pada saat itu, hamba hanya berniat memberi pinjaman beberapa buku kepadanya, jadi mohon tolong hapuskan dosa-dosa atas kebodohan hamba pada saat itu. Hari mulai terasa gelap saya harus segera kembali, terima kasih banyak telah memerlakukan tamu dengan baik, keluarga kamu hebat.

Wahai kamu yang hebat,
sekarang kau berada di suatu tempat yang jauh disana, saya tidak tahu,
kita sekarang terpisah, entah sampai kapan? saya tidak tahu,
prediksi saya mungkin selamanya,
jika ada harapan dalam diriku untuk bertemu kembali : JELAS ada.
Tapi intinya saya sudah sadar diri, bahwa kamu lebih layak bersamanya, jujur saya tidak mau mengganggu, namun mohon izinkan saya hanya untuk mensupport aktivitasmu, mendukung cita-citamu, mendengarkan informasi tentangmu, mengetahui kondisimu dan berdoa akan keselamatanmu, mohon izinkan, maaf bila kehadiran saya dari awal sampai sekarang hanya membuatmu terusik.
Kamu yang hebat, memang tulisan ini kurang penting, tapi seandainya tulisan ini terbaca olehmu, saya hanya ingin sekedar memberi informasi kepada mu bahwa saya masih ada, kamu masih bagian masa lalu yang sulit dihapus, kalaupun bisa kenapa tidak berteman saja? angka 2424 ini masih ada, atau sekurang-kurangnya izinkan saya menjadi penonton, penonton yang sekedar ingin menontonmu sampai berakhir pada happy ending, karena saya sadar tak mungkin saya yang menjadi pasangan pemeran utamanya, jadi izinkan saya menonton saja ya.πŸ™‚

selamat berjuang, semoga sukses, untuk kamu yang hebat.

@DimasRamdhanP Trying recall.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s