Temperament are …

Sejujurnya saya tidak terlalu terampil dalam meuangkan pemikiran, apalagi ketika overloaded penampungannya di otak lalu menyusunnya dalam sebuah tulisan, sulit, saaangat sulit, tekanan yang diberikan besar namun luas penampang yang ada sangat kecil, jadinya si pemikiran yang overloaded ini seolah saling berebut mau keluar, kayak ribuan jemaah selesai jum’atan mau keluar masjid, tapi pintu keluar mesjidnya cuma 1 dan Cuma muat buat 1 orang, ya, kaya gitu.

Sejak masuk SMPN 1 Leuwiliang (Sekolah Menengah Pertama) di daerah Leuwiliang, Kab. Bogor, waktu itu usia saya sekitar 12 -13 tahun, saya telah dibiasakan untuk hidup dalam pressure yang cukup besar, saya dituntut untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, dimulai dari hal kecil disekolah seperti kemeja dan celana seragam rusak, sepatu bolong, buku LKS pada gak punya, nahan lapar seharian karena uang pas-pasan buat ongkos,…
ya disamping itu saya harus dapat prestasi bagus atau lebih besar dari teman saya yang kemeja sama celana seragamnya bagus, sepatunya mahal, buku paket sampe luber di tas, makan begitu tercukupi sehingga pas guru menerangkan itu bisa fokus bukannya kayak saya megangin perut terus.
Bisa apa saya? Ya bisa sabar, kata seorang guru B. Inggris saya di SMP yang sekaligus walikelas memberi sedikit pengertian terhadap situasi dan posisi saya.
Kata-kata beliau yang diucapkan kepada saya sebelum pergi meninggalkan SMPN 1 Leuwiliang pada saat itu adalah “Jangan jadikan keterbatasan kamu sebagai kelemahan, jadikan cambuk, jadikan pecut, untuk kamu bangun, untuk kamu sadar kalau kamu harus bergegas dan kerja keras untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang sedang dialami oleh kamu ini”
Namanya Pak Dudi, Guru pertama di SMPN 1 Leuwiliang yang begitu dekat dengan saya.
Saya gak akan pernah lupa, sampai kapanpun, terima kasih banyak pak.

Namun pressure gak habis sampai saya pulang sekolah, dengan kondisi lusuh, lemas dan udah gak tau lagi apa yang harus dipikirkan, sesampainya dirumah gak ada SESUATU PUN untuk bisa dimakan, masa saya mau nyalahin ibu, keliatan sih itu lagi duduk diruang depan rumah saya yang masih beralaskan tanah dan atap langsung terhubung tanpa penutup ke bagian genting, Nama Ibu saya Tuti Rachmawati,
kesehariannya ibu rumah tangga, kadang usaha serabutan, apa ajalah yang kecil-kecilan yang gak begitu nguras tenaga, buat bisa beli mie instant sama nambahin ongkos sekolah ke 4 anaknya.
Nah pas saya buka tempat nasi dan isinya kosong, ibu saya langsung ke dapur membakar kayu dalam tungku lalu membuatkan 1 bungkus mie instant buat saya, beliau bilang,
“Ini makan mie aja ya, baru beli beras paling nanti malam nunggu bapak pulang”
Alhamdulillah saya diberi kesadaran yang cukup oleh Allah Swt atas segala kejadian ini, sehingga orientasi pemikiran saya gak peduli sama makanan selapar apapun perut saya pada saat itu, melainkan malah mikir, jangan-jangan itu cuma satu-satunya mie yang ada, sedangkan ibu sendiri gak makan.
Tapi ketika ditanya, bilangnya selalu udah makan, saya tau ibu bohong, saya sedih, tapi kalau ini mie gak saya makan ibu bakal lebih sedih lagi.

Terlepas dari itu semua saya memiliki 3 adik, yang pertama laki-laki, yang kedua dan ketiga perempuan, dan saya pemimpin dari mereka semua, ketika sedang makan mie instant yang cuma segitu-gitunya pun saya malah mikirin mereka bertiga, rasanya gak tenang aja kalau menikmati sesuatu tapi gak tau keadaan mereka bertiga, bawaannya pengen berbagi, bawaanya pengen ngasih, saya gak mau enak-enakan makan saat mereka pulang sekolah dalam kondisi kelaparan, berdosa banget rasanya.
Tapi ibu selalu bilang “udah makan aja, nanti mereka gampang beli lagi”, padahal saya tau beli lagi duit darimana?
Untuk menghubungkan semua ini, maka saya akan sedikit menjelaskan mengenai Bapak saya, pemimpin dari keluarga kami, Nama Bapak saya adalah Tri Ka’adas Warsono, ada keturunan Jawa dari kakek, singkat cerita sebelum pindah hunian ke bogor, kami sekeluarga tinggal di Jl. cempaka wangi, daerah kemayoran, Jakarta pusat dan ayah adalah seorang perintis usaha yang tekun dan sukses, kami hidup berkecukupan pada masa itu, namun ketika pindah ke bogor seolah hilang kendali, usahanya tersendat dan banyak musibah yang menimpanya sampai akhirnya bangkrut, skip skip skip, sampai pada saat sekarang saya lagi makan mie instant ini, dirumah yang ketiga kalinya pindah pasca menetap di Bogor.
Sekarang Bapak saya cuma seorang sales, sales dari perusahaan cash-credit punya orang, penghasilan mengandalkan komisi, komisinya ya segitu, nominal ratus-ribuan, itu juga kalau lagi dapet, kalau sepi ya berarti gak ada penghasilan, sehingga kalau pulang malam bawa beras, telor, mie instant itu udah ALHAMDULILLAH BERSYUKUR LUAR BIASA banget buat kita sekeluarga.

Saya di gembleng dengan kondisi dan tekanan seperti itu setiap hari terus-terusan, sampai sampai saya lupa kalau saya ini adalah seorang anak yang punya hak untuk dipenuhi ketika kewajibannya telah dijalankan secara baik dan benar.

Disaat anak seusia saya memikirkan kapan dibelikan ponsel keluaran terbaru oleh orang tuanya disini saya bersyukur saya masih bisa hidup untuk beberapa jam kedepan.
Disaat anak seusia saya belajar dengan fasilitas yang berlebih di rumah gedongnya, disini saya bersyukur punya orang tua yang membantu mencari pinjaman buku ke tetangga-tetangga.
Disaat anak sesusia saya memakai uang yg diberikan dari orang tuanya untuk main, senang-senang, pacaran dan bolos, disini saya bersyukur kedua orang tua saya masih sehat dan ada dirumah.

Otak saya menjadi tersetting untuk tidak melihat sesuatu yang sifat dan nilainya diatas (lebih baik) dalam menanggapi kesulitan, tapi melihat kebawah (lebih buruk) lalu berpikir dan merenung karena masih banyak orang yang mengalami situasi dan kondisi serupa BAHKAN lebih buruk dari pada saya !

Nama saya Dimas Ramadhan Putra, Usia saya sekarang 20 tahun. Sudah lama saat terakhir tulisan saya yang masih acak-acakan di posting ke blog ini.
Sekarang saya mengalami kondisi serupa seperti beberapa tahun silam, yaa, walaupun sudah terbiasa, bahkan bisa dibilang lebih bijak, lebih dewasa dan lebih kuat di 20 tahun ini, tapi kan siapapun manusia, sekuat apapun manusia ketika mereka di uji, pasti ada rasa sakit yang dirasakannya, ada sebuah titik, sebuah perasaan batin dalam diri manusia yang menentukan sikap dan perilaku yang terkena rasa sakit dalam proses ujian yang sedang dihadapi ini.

Bedanya sekarang saya menjalankan setengah peran bapak dalam menafkahi keluarga, sedangkan dulu tidak.
Sekarang saya harus menanggung biaya ibu berobat jalan karena semenjak 2012 ada penyakit anemia heart disease yang dideritanya, sedangkan dulu tidak.
Sekarang tinggal sendiri pisah rumah dari keluarga, sedangkan dulu tidak.
Sekarang seiring mendawasanya sikap, perilaku, watak, mental, fisik dan sebagainya, masalah yang tak terduga pun muncul dengan sendirinya satu persatu, sedangkan dulu tidak.
Sekarang saya sudah masuk dalam dunia kerja yang cukup keras dan sedikit toleransi, sedangkan dulu tidak.

Terlalu banyak beban yang saya tanggung sendiri sampai hari ini, hari dimana saya menulis tulisan ini, karena saking udah gak tau lagi harus cerita kesiapa selain tuhan, yang biasanya saya pendam dan pikirin sendiri segala solusi jalan keluarnya, karena saya udah terbiasa menyelesaikan segala-galanya sendiri, namun di titik puncak rasa sakit akhirnya harus tertuang juga segala perasaan ini dalam sebuah tulisan. Tapi tetep aja ada efek samping, ada akibat yang saya dapatkan dari menahan rasa sakit ini.
Dalam kondisi dan situasi ini perangai saya mulai ngaco, atau bisa dibilang chaos seperti lupa kalau hidup ini ada yang namanya kebahagiaan sejati, karena sehari-hari yang saya dapat hanyalah senyum, tawa dan kebahagiaan palsu, karena saya mendapatkan kebahagiaan itu bukan dari tempat yang benar, sebuah tempat yang seharusnya saya berada disitu, I’m in the wrong place now, I’m in the wrong life now, sehingga seringkali saya mencari kedamaian, kebahagiaan, mencari sesuatu yang bisa membuat hati dan mulut ini sinkron dalam melakukan gesture senyum dan gesture tawa diluar kehidupan saya sekarang ini yang mau tak mau harus dilalui masa-masa sulitnya, harus dijalani proses proses nya.

Bersyukur saya muslim, saya masih punya Allah tempat saya berlindung, tempat saya mengadu dari segala problematika kehidupan yang ada, karena ketentuan-Nya dalam firman takkan pernah salah tidak akan pernah cobaan dari Allah melebihi kekuatan hambanya.
Semoga perangai ini semakin kuat, semakin teratur, semakin sinkron, semakin seimbang, because ..

Temperament are … the nature of the human mind which affects all our thoughts and actions.

i hope a temperament in myself could be balanced and normal.
I hope everything I do next will be better, could be more meaningful and normal too.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s