Temperament are …

Sejujurnya saya tidak terlalu terampil dalam meuangkan pemikiran, apalagi ketika overloaded penampungannya di otak lalu menyusunnya dalam sebuah tulisan, sulit, saaangat sulit, tekanan yang diberikan besar namun luas penampang yang ada sangat kecil, jadinya si pemikiran yang overloaded ini seolah saling berebut mau keluar, kayak ribuan jemaah selesai jum’atan mau keluar masjid, tapi pintu keluar mesjidnya cuma 1 dan Cuma muat buat 1 orang, ya, kaya gitu.

Sejak masuk SMPN 1 Leuwiliang (Sekolah Menengah Pertama) di daerah Leuwiliang, Kab. Bogor, waktu itu usia saya sekitar 12 -13 tahun, saya telah dibiasakan untuk hidup dalam pressure yang cukup besar, saya dituntut untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, dimulai dari hal kecil disekolah seperti kemeja dan celana seragam rusak, sepatu bolong, buku LKS pada gak punya, nahan lapar seharian karena uang pas-pasan buat ongkos,…
ya disamping itu saya harus dapat prestasi bagus atau lebih besar dari teman saya yang kemeja sama celana seragamnya bagus, sepatunya mahal, buku paket sampe luber di tas, makan begitu tercukupi sehingga pas guru menerangkan itu bisa fokus bukannya kayak saya megangin perut terus.
Bisa apa saya? Ya bisa sabar, kata seorang guru B. Inggris saya di SMP yang sekaligus walikelas memberi sedikit pengertian terhadap situasi dan posisi saya.
Kata-kata beliau yang diucapkan kepada saya sebelum pergi meninggalkan SMPN 1 Leuwiliang pada saat itu adalah “Jangan jadikan keterbatasan kamu sebagai kelemahan, jadikan cambuk, jadikan pecut, untuk kamu bangun, untuk kamu sadar kalau kamu harus bergegas dan kerja keras untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang sedang dialami oleh kamu ini”
Namanya Pak Dudi, Guru pertama di SMPN 1 Leuwiliang yang begitu dekat dengan saya.
Saya gak akan pernah lupa, sampai kapanpun, terima kasih banyak pak.

Namun pressure gak habis sampai saya pulang sekolah, dengan kondisi lusuh, lemas dan udah gak tau lagi apa yang harus dipikirkan, sesampainya dirumah gak ada SESUATU PUN untuk bisa dimakan, masa saya mau nyalahin ibu, keliatan sih itu lagi duduk diruang depan rumah saya yang masih beralaskan tanah dan atap langsung terhubung tanpa penutup ke bagian genting, Nama Ibu saya Tuti Rachmawati,
kesehariannya ibu rumah tangga, kadang usaha serabutan, apa ajalah yang kecil-kecilan yang gak begitu nguras tenaga, buat bisa beli mie instant sama nambahin ongkos sekolah ke 4 anaknya.
Nah pas saya buka tempat nasi dan isinya kosong, ibu saya langsung ke dapur membakar kayu dalam tungku lalu membuatkan 1 bungkus mie instant buat saya, beliau bilang,
“Ini makan mie aja ya, baru beli beras paling nanti malam nunggu bapak pulang”
Alhamdulillah saya diberi kesadaran yang cukup oleh Allah Swt atas segala kejadian ini, sehingga orientasi pemikiran saya gak peduli sama makanan selapar apapun perut saya pada saat itu, melainkan malah mikir, jangan-jangan itu cuma satu-satunya mie yang ada, sedangkan ibu sendiri gak makan.
Tapi ketika ditanya, bilangnya selalu udah makan, saya tau ibu bohong, saya sedih, tapi kalau ini mie gak saya makan ibu bakal lebih sedih lagi.

Terlepas dari itu semua saya memiliki 3 adik, yang pertama laki-laki, yang kedua dan ketiga perempuan, dan saya pemimpin dari mereka semua, ketika sedang makan mie instant yang cuma segitu-gitunya pun saya malah mikirin mereka bertiga, rasanya gak tenang aja kalau menikmati sesuatu tapi gak tau keadaan mereka bertiga, bawaannya pengen berbagi, bawaanya pengen ngasih, saya gak mau enak-enakan makan saat mereka pulang sekolah dalam kondisi kelaparan, berdosa banget rasanya.
Tapi ibu selalu bilang “udah makan aja, nanti mereka gampang beli lagi”, padahal saya tau beli lagi duit darimana?
Untuk menghubungkan semua ini, maka saya akan sedikit menjelaskan mengenai Bapak saya, pemimpin dari keluarga kami, Nama Bapak saya adalah Tri Ka’adas Warsono, ada keturunan Jawa dari kakek, singkat cerita sebelum pindah hunian ke bogor, kami sekeluarga tinggal di Jl. cempaka wangi, daerah kemayoran, Jakarta pusat dan ayah adalah seorang perintis usaha yang tekun dan sukses, kami hidup berkecukupan pada masa itu, namun ketika pindah ke bogor seolah hilang kendali, usahanya tersendat dan banyak musibah yang menimpanya sampai akhirnya bangkrut, skip skip skip, sampai pada saat sekarang saya lagi makan mie instant ini, dirumah yang ketiga kalinya pindah pasca menetap di Bogor.
Sekarang Bapak saya cuma seorang sales, sales dari perusahaan cash-credit punya orang, penghasilan mengandalkan komisi, komisinya ya segitu, nominal ratus-ribuan, itu juga kalau lagi dapet, kalau sepi ya berarti gak ada penghasilan, sehingga kalau pulang malam bawa beras, telor, mie instant itu udah ALHAMDULILLAH BERSYUKUR LUAR BIASA banget buat kita sekeluarga.

Saya di gembleng dengan kondisi dan tekanan seperti itu setiap hari terus-terusan, sampai sampai saya lupa kalau saya ini adalah seorang anak yang punya hak untuk dipenuhi ketika kewajibannya telah dijalankan secara baik dan benar.

Disaat anak seusia saya memikirkan kapan dibelikan ponsel keluaran terbaru oleh orang tuanya disini saya bersyukur saya masih bisa hidup untuk beberapa jam kedepan.
Disaat anak seusia saya belajar dengan fasilitas yang berlebih di rumah gedongnya, disini saya bersyukur punya orang tua yang membantu mencari pinjaman buku ke tetangga-tetangga.
Disaat anak sesusia saya memakai uang yg diberikan dari orang tuanya untuk main, senang-senang, pacaran dan bolos, disini saya bersyukur kedua orang tua saya masih sehat dan ada dirumah.

Otak saya menjadi tersetting untuk tidak melihat sesuatu yang sifat dan nilainya diatas (lebih baik) dalam menanggapi kesulitan, tapi melihat kebawah (lebih buruk) lalu berpikir dan merenung karena masih banyak orang yang mengalami situasi dan kondisi serupa BAHKAN lebih buruk dari pada saya !

Nama saya Dimas Ramadhan Putra, Usia saya sekarang 20 tahun. Sudah lama saat terakhir tulisan saya yang masih acak-acakan di posting ke blog ini.
Sekarang saya mengalami kondisi serupa seperti beberapa tahun silam, yaa, walaupun sudah terbiasa, bahkan bisa dibilang lebih bijak, lebih dewasa dan lebih kuat di 20 tahun ini, tapi kan siapapun manusia, sekuat apapun manusia ketika mereka di uji, pasti ada rasa sakit yang dirasakannya, ada sebuah titik, sebuah perasaan batin dalam diri manusia yang menentukan sikap dan perilaku yang terkena rasa sakit dalam proses ujian yang sedang dihadapi ini.

Bedanya sekarang saya menjalankan setengah peran bapak dalam menafkahi keluarga, sedangkan dulu tidak.
Sekarang saya harus menanggung biaya ibu berobat jalan karena semenjak 2012 ada penyakit anemia heart disease yang dideritanya, sedangkan dulu tidak.
Sekarang tinggal sendiri pisah rumah dari keluarga, sedangkan dulu tidak.
Sekarang seiring mendawasanya sikap, perilaku, watak, mental, fisik dan sebagainya, masalah yang tak terduga pun muncul dengan sendirinya satu persatu, sedangkan dulu tidak.
Sekarang saya sudah masuk dalam dunia kerja yang cukup keras dan sedikit toleransi, sedangkan dulu tidak.

Terlalu banyak beban yang saya tanggung sendiri sampai hari ini, hari dimana saya menulis tulisan ini, karena saking udah gak tau lagi harus cerita kesiapa selain tuhan, yang biasanya saya pendam dan pikirin sendiri segala solusi jalan keluarnya, karena saya udah terbiasa menyelesaikan segala-galanya sendiri, namun di titik puncak rasa sakit akhirnya harus tertuang juga segala perasaan ini dalam sebuah tulisan. Tapi tetep aja ada efek samping, ada akibat yang saya dapatkan dari menahan rasa sakit ini.
Dalam kondisi dan situasi ini perangai saya mulai ngaco, atau bisa dibilang chaos seperti lupa kalau hidup ini ada yang namanya kebahagiaan sejati, karena sehari-hari yang saya dapat hanyalah senyum, tawa dan kebahagiaan palsu, karena saya mendapatkan kebahagiaan itu bukan dari tempat yang benar, sebuah tempat yang seharusnya saya berada disitu, I’m in the wrong place now, I’m in the wrong life now, sehingga seringkali saya mencari kedamaian, kebahagiaan, mencari sesuatu yang bisa membuat hati dan mulut ini sinkron dalam melakukan gesture senyum dan gesture tawa diluar kehidupan saya sekarang ini yang mau tak mau harus dilalui masa-masa sulitnya, harus dijalani proses proses nya.

Bersyukur saya muslim, saya masih punya Allah tempat saya berlindung, tempat saya mengadu dari segala problematika kehidupan yang ada, karena ketentuan-Nya dalam firman takkan pernah salah tidak akan pernah cobaan dari Allah melebihi kekuatan hambanya.
Semoga perangai ini semakin kuat, semakin teratur, semakin sinkron, semakin seimbang, because ..

Temperament are … the nature of the human mind which affects all our thoughts and actions.

i hope a temperament in myself could be balanced and normal.
I hope everything I do next will be better, could be more meaningful and normal too.

Advertisements

I just have to give it up

Oh my.
You should be
able to recognize the fact.
Very required.
You can’t always hide from liars of mind,
and then cover it up with all the reasons that rationalized,
Even up
to make you fall and fall again.
Never mind.
I have to get up from this all, a beautiful dream but a bad ending.
hehehe…
this isn’t laugh of sadness
,
Now i could to search another happiness at the other side.
which previously couldn’t be,
I’m glad, very very glad.
could see your happy face, your
healthy body and soul, live a happy life.
Whenever you are..
Wherever you are ..
i always waiting for chance to enter your life..
Even tough i feel it isn’t rational.
Whatever,
I just want to declare faithfulness.
I just want to declare, that i have a content about a long hidden feelings.
this is funny, isn’t it?
surrender? could be ..
more exactly : be realistic.
and ..
Ikhlas..
whatever happens,
for now i just have to live a happy life too,
don’t worry, happiness could come from every side of world,
because, true happiness could be made by everyone who trust their life will be a wonderful life.
because life is too short to let the others define what makes us happy.
altough too sweet to be forgotten..
i could .. :))
so..
I just have to give it up.


Open mic rules @komtung47

Setelah berhasil mengumpulkan “prajurit-prajurit tawa” SMANELL pada sabtu 22 Juni 2013, @MFK_OzoN@Fachmi_worsnop , @Agillajahh , @afriza_adha , @Gstsantosa_ , @YoesMaulana , @AdytiaGumelar , @Randyka_DK , @Dijki_Cules , @Muhammadyahyas.

Kita sepakat akan mengadakan open mic kembali (sekarang asli pake mic) pada hari sabtu, tanggal 17 Agustus 2013 ( Apabila tidak terjadi kesalahan teknis ataupun halangan), di kelas kosong yang nggak kepake ajalah pokoknya karena kita belum dapat tempat yang continue bisa dipakai rutin untuk kegiatan ini.Selain nama-nama diatas diharapkan ada anggota baru yang tertarik dengan kegiatan ini ataupun memang sekedar mencintai seni stand up comedy.

Berikut akan saya jelaskan peraturannya :

Open Mic Rules

  1. Setiap anggota komunitas wajib menjajal materinya di open mic edisi 17 Agustus 2013 ini, dengan materi bebas.
  2. Durasinya maksimal 10 menit/comic, minimal 2 menit/comic.
  3. Apabila ada orang yang belum terdaftar komunitas namun ingin menjajal open mic maka akan kami persilahkan.
  4. Penilaian berdasarkan LPM (Laugh Per Minute), Intonasi, Kejelasan pembawaan materi dan kualitas isi materi yang dibawakan.
  5. Edisi open mic ini tidak bertema atau mengacu pada suatu materi untuk dibicarakan, sehingga bebas sesuai materi yang (mungkin) sudah ditulis oleh masing-masing.
  6. (Niatnya) akan ada merchandise FREE 1 pcs T-shirt Stand up comedy bagi yang menurut saya layak alias lucu, kalo gak ada yang lucu bakal diundur untuk open mic berikutnya.
  7. Jangan salahkan penulis jika terjadi kesalahan penulisan open mic rules ini baik berupa susunan kalimat ataupun pemilihan kata.
  8. Open mic rules ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai situasi, kebutuhan dan kebijakan bersama.

Bila ada yang masih kurang jelas, sangat tidak dianjurkan untuk bertanya sebelum memahami terlebih dahulu, apabila tidak paham-paham, nah, baru tanyakan pada @DimasRamdhanP .

Terima kasih.

Inilah yang disebut “kemiskinan 2.0”

Lagi browsing, eh kebetulan nemu berita, walaupun mungkin harus saya kaji terlebih dahulu mengenai kebenarannya, tapi sebelumnya bakal saya kutip disini beritanya beserta sumber-sumbernya supaya bisa kita tela’ah bareng-bareng disini ya bro.

Nih beritanya :

“MERDEKA.COM. Dengan muka memelas mereka menyusuri jalan-jalan Jakarta yang berdebu. Menadahkan tangan meminta sedekah. Sebagian tampil dengan anggota tubuh tak lengkap, sebagian lagi membawa bayi mungil yang dekil dalam gendongan. Penampilan para pengemis itu mengundang iba. Selembar seribu atau dua ribuan dengan ikhlas direlakan para dermawan untuk mereka.

Benarkah para pengemis yang setiap hari lalu lalang itu hidup menderita? Ternyata tidak semua.

Petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan menemukan fakta mengejutkan. Dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

“Kalau yang segitu biasanya didapat pengemis dengan tingkat kekasihanan yang sangat sangat kasihan. Seperti pengemis kakek-kakek atau ibu-ibu yang mengemis dengan membawa anaknya,” ujar Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda saat ditemui di kantornya, Selasa (25/6).

Kemudian, lanjutnya, untuk pengemis dengan tingkat kasihan yang standar atau biasa saja dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu.

“Itu seperti anak-anak jalanan yang saat mengemis mengandalkan muka memelas,” tuturnya.

Satu hari Rp 1 juta, kalikan 30 hari. Pengemis ini bisa dapat Rp 30 juta per bulan. Bermodal perkusi dari tutup botol, anak-anak jalanan mengantongi Rp 12 juta lebih.

Maka silakan bandingkan dengan gaji manajer di Jakarta. Penelusuran merdeka.com, gaji manajer di Jakarta rata-rata berkisar Rp 12 hingga 20 jutaan. Gaji pemimpin cabang sebuah bank rata-rata Rp 16 juta. Sementara Kepala Divisi Rp 20 juta.

Rata-rata butuh waktu sekitar tujuh tahun bagi seorang profesional mencapai level manajer. Tak mudah mencapai posisi itu.

Untuk fresh graduate atau sarjana yang baru lulus dan tak punya pengalaman kerja. Kisaran gajinya Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta. Jika beruntung, ada perusahaan yang mau memberi hingga di atas Rp 4 juta. Tapi sangat jarang.

“Saya kerja jadi teller di bank. Sudah lima tahun, paling bawa pulang Rp 4 juta. Kaget juga dengar pengemis bisa dapet belasan sampai Rp 30 juta,” kata Rani, seorang pegawai bank pemerintah saat berbincang dengan merdeka.com.

Luar biasa memang. Gaji seorang manajer kalah oleh pengemis. Teller bank yang selalu tampil cantik dan modis, gajinya hanya sepertiga anak jalanan yang bermodal tampang memelas.

“Karena pendapatan yang terbilang fantastis itulah, para pengemis enggan beralih profesi. Cukup bermodal tampang memelas, tanpa skill apapun mereka bisa dapat uang banyak dengan mudah,” kata Miftahul Huda.

Dia menambahkan maraknya pengemis dan gelandangan yang tersebar di Ibukota disinyalir sudah teroganisir. Diduga ada sindikat yang mengatur kelompok pengemis yang kerap mendrop mereka di suatu tempat untuk kemudian ‘beroperasi’ di wilayah yang telah ditentukan.

“Kita pernah menelusuri ke kampung halamannya. Dan memang nyatanya mereka punya rumah yang bisa dibilang lebih dari cukuplah di kampungnya itu. Itu fakta yang kita dapatkan,” jelas Miftahul.

Untuk itu, Miftahul mengimbau kepada masyarakat yang ingin memberikan sumbangan menyalurkan ke tempat yang tepat.

“Dengan menyalurkan ke badan zakat yang resmi, akan disalurkan ke yang berhak menerimanya. Dan secara otomatis ini mengurangi pengemis, karena tidak ada yang mau memberi di jalan,” tandasnya.”

Sumber: Merdeka.com

Pada dasarnya tetap miskin, tetapi sudah di upgrade menjadi versi terbaru.
Mungkin inilah yang disebut “kemiskinan 2.0”

Pengalih perhatian saja

Anak-anak yang terlahir dibumi pertiwi Indonesia, seiring mereka tumbuh dan berkembang maka kebutuhan akan pendidikan harus segera dipenuhi, mau tak mau harus mengikuti dan menganut sistem pendidikan Indonesia yang katanya wajib belajar 12 tahun.

Mungkin sejauh ini beberapa ada yang sukses, banyak peserta-peserta olimpiade bidang akademik yang masih duduk di bangku SMA dari Indonesia yang mampu bersaing pada kancah Nasional maupun Internasional, namun bagi saya itu adalah sebuah anugerah Tuhan YME kepada seorang anak, yang luar biasanya bersinergis dengan lingkungan dia tumbuh dan berkembang, hidup yang terfasilitasi, lalu tempat dia menempuh pendidikan, dengan siapa ia menjalin pergaulan, pola pikir yang terbentuk dari sejak kecil, peran orang tua, aktivitas sehari-hari dan yang terakhir adalah kerja keras.

Karena saya percaya hasil dari kerja keras mampu mengalahkan bakat, buktinya ada dari kalangan bawah mampu bersaing dengan mereka yang hidup superior dari lahir. Ya walaupun tidak semua, karena saya beranggapan bahwa mereka memang ditakdirkan jenius walaupun cara dan jalannya berbeda, ada yang sudah terfasilitasi, tinggal jalan dan lawan rintangannya dan ada yang harus membangun jalannya dulu, mencari navigasi dulu, mencari bahan bakar dulu, kerja keras dulu baru melawan rintangannya, yang pada akhirnya keduanya bertemu dititik goal yang sama menjadi manusia jenius, seperti contohnya menjadi siswa SMA yg berprestasi ditingkat nasional maupun internasional.

Hal yang serupa bakal kita temukan ketika kita selesai menempuh wajib belajar 12 tahun.  Pada situasi ini, SEBENARNYA banyak jalur yang bisa mereka pilih untuk menuju pencapaian sukses, ada satu diantara beberapa jalur yang sering dilalui mereka, yaitu dengan melanjutkan ke universitas, menurut saya jalur ini bagaikan JALUR UTAMA, sebenarnya sulit, tapi aman, ada trayeknya sehingga kita yakin bakal sampai tujuan walaupun tidak tau berapa lama durasinya, jalur ini jalannya bagus, jarang ada lubang atau kerusakan, paling ada polisi tidur, sehingga kemungkinan kecelakaan kecil, namun karena ramai maka sering macet, walaupun sering macet namun tetap tertib karena banyak polisinya, yang tidak tertib bakal kena denda ataupun hukuman.

Mereka yang telah selesai melaksanakan wajib belajar 12 tahun, yaitu siswa/siswi Sekolah Menengah Atas, hampir 90% dari 1 angkatan akan memiliki ambisi untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi yang sering kita dengar dengan Universitas, perguruan tinggi, Sekolah Tinggi, ataupun Institut. Ambisi ini memang baik dan melanjutkan study ke level yang lebih tinggi memang baik, saya sangat setuju bahwa melanjutkan study ke universitas membuat kita siap menghadapi dunia dan mampu merancang masa depan yang baik, namun anggapan banyak orang bahwa lulus SMA itu masih kurang bekal dan masa depan tidak akan terjamin itu tidak 100 % benar adanya.
Ingat, situasi kehidupan orang sangatlah berbeda, tidakkah dari ratusan juta rakyat Indonesia ribuan diantaranya melakukan DEMO dijalan, ketika kita lihat langsung mereka yang DEMO sangat banyak, seolah-olah mayoritas, lalu kita yang tadinya sedang menonton dari layar kaca televisi, apakah HARUS ikut-ikutan kepada mayoritas hanya karena kita terlihat beda sendiri tanpa mengetahui apa penyebabnya? loh bukannya itu namanya tidak punya prinsip? ayolah, ketika musim panen dan pohon mangga berbuah, maka tidak semua mangga diperoleh dalam keadaan yang sempurna, pasti ada 1 atau 2 yang busuk terlalu matang, ataupun dimakan satwa liar.

Masalahnya adalah terletak pada ambisi mereka yang membuat pandangan hanya dibuat 1 jalur, seolah-olah wajib dan hanya bisa melewati jalur itu untuk sampai ke titik akhir yang disebut-sebut sebagai “sukses”, tidak ada jalur lain, tidak ada pilihan lain, SEHINGGA, apabila mereka tidak mampu atau bisa kita katakan salah rute (gagal) melewati jalur yang hanya satu-satunya itu, maka mereka harus putar balik, dan mulai dari start awal lagi pada jalur yang sama, namun itu harus menunggu waktu yang lama karena putar baliknya jauh, namun yang saya khawatirkan adalah ketika mereka putar balik sampai 3 kali, yang pada akhirnya kendaraan mereka habis bahan bakar sehingga terpaksa turun dan jalan kaki, (paham kan maksud perumpamaan saya?).

Jadi apabila berbagai macam faktor membuat kamu kurang mampu memakai jalur utama, beralihlah ke jalur yang lain, masih banyak yang bisa kamu pilih, berdiam diri dengan menutup hati dan mata sehingga seolah-olah jalur menuju sukses itu hanya ada satu adalah salah besar, jangan takut tertinggal ketika banyak orang mampu masuk ke jalur utama yang telah dilengkapi peta rutenya dengan tertawa senang, jangan takut, itu hanyalah pengalih perhatian saja, jangan sampai terbawa secara psikis dan emosional seakan-akan diri yang telah gagal ini sudah tidak berguna lagi, putus asa dan putus harapan, akan datang masanya ketika harus membandingkan dengan teman yang BARU berhasil masuk di jalur utama (bangku kuliah) “toh teman-teman pada bisa kenapa saya tidak bisa?” ups? harus ingat pernyataan saya tadi bahwa kondisi kehidupan manusia berbeda-beda :), kalau ditelaah baik-baik maka mencari jalur lain adalah aksi yang tepat, coba move on dan move up, kumpulkan semangat lagi, lakukan yang terbaik, yang kita bisa, karena tidak sedikit ketika ditengah jalan yang mengeluh terhadap jalur yang diambilnya, ada juga yang sepanjang perjalanan kerjaannya ngemis ke pemilik modal (orang tua) BAHKAN ada yang gugur ditengah perjalanan dengan berbagai macam alasan.

Saya membuat tulisan ini bukan karena gara-gara saya tidak kuliah di perguruan tinggi sehingga agak sinis dan mempunyai pandangan yang berbeda ataupun merasa iri dengan mereka yang duduk dan menempuh pendidikan di perguruan tinggi, tidak. Tidak benar, Justru saya suka mereka yang kuliah, mereka yang disebut mahasiswa, mereka yang punya tanggungan yang diwujudkan dalam kontribusi nyata untuk bangsa Indonesia kelak nanti, saya hanya ingin berpesan bahwa kalian yang kurang beruntung dan tidak sempat merasakan duduk di bangku perkuliahan untuk membuka mata, membuka pikiran, melapangkan dada dan kumpulkan sisa tenaga serta semangat yang ada, karena masih banyak jalur, bahkan akan selalu ada jalur yang bisa kita lewati dengan pola pikir yang berorientasi kesuksesan, memang beda jalur, ada yang ke utara, ke barat, ke selatan, ke timur dan arah-arah lainnya, namun percayalah pada akhirnya orang-orang yang melewati berbagai jalur-jalur yang berbeda itu akan bertemu pada satu titik, satu tempat, satu tujuan yang sama, yaitu sukses, jangan mudah terpengaruh, mereka hanya pengalih perhatian saja.

@DimasRamdhanP